Wawancara Exclusive: Sir Paul McCartney

Jumat, 21 Februari 2014 | komentar



Oleh: Teguh Wicaksono /rollingstone.co.id

London - Para bijak dan cendekia kerap berujar bahwa manusia wajib tahu kapan harus berkata cukup. Nampaknya hal itu tak pernah berlaku untuk Paul McCartney.

Setelah Fab Four, dia adalah Beatle yang paling produktif; berkarya dalam berbagai platform, termasuk proyek scoring, tur, bahkan album dengan genre klasik, elektronik hingga menggelar pameran lukisan karya-karya pribadinya.

Tidak cukup sampai di situ, McCartney banyak terlibat dalam berbagai kegiatan amal, dari PETA hingga komunitas vegetarian. Pada 2011 dia menikahi Nancy Shevell dan memulai lembaran rumah tangga baru. Dengan status legenda dan karier secemerlang Macca (panggilannya), mungkin hanya satu pertanyaan yang terus bergaung di dalam benaknya: Apa selanjutnya?

New – album solo Paul ke-16 – adalah jawabannya. Diracik bersama empat produser muda dengan karakteristik yang berbeda (Mark Ronson, Paul Epworth, Giles Martin dan Ethan Johns), New adalah pencapaian baru bagi McCartney yang berusia 71 tahun ini. Dengan jam terbang puluhan tahun, keputusan untuk keluar dari zona kenyamanan dan mencoba cara-cara baru adalah hal yang patut diacungi jempol. Saat kebanyakan musisi senior hanya mengulangi jurus yang sama, dia selalu haus akan hal baru.

Memilih New sebagai judul album merupakan langkah yang jenius. Di hadapan dunia, cukup sukar untuk menggali hal baru tentang Macca. Semua orang mengenalnya, memujanya, mengangguk setuju kepada karya-karyanya. Lalu, apa lagi yang baru? Paradoks yang sempurna.

Sambil bersenandung dalam rangka mengenyahkan rasa gelisah, di hadapan cermin toilet saya membetulkan posisi kemeja yang lumayan basah karena hujan yang menyiram London siang itu. Dalam waktu sepuluh menit saya dan beberapa wartawan lain dari mancanegara akan bertatap muka dengan seorang legenda dan saya tidak mau terlihat lusuh.

Di antara keramaian santap siang di lokasi wawancara The London Edition, saya dipandu ke sebuah ruangan pertemuan bawah tanah bermandikan cahaya keunguan, tampak seperti sebuah bilik dari zaman kerajaan. Sayup-sayup lagu-lagu dari New berkumandang menjadi latar suara.

Tak lama setelah saya mendaratkan tubuh di salah satu kursi, Paul tiba. “What a scary place for an interview!” tukasnya dengan aksen Scouse yang kental, bercanda seraya tertawa dan duduk berhadapan dengan saya. Auranya jauh dari kesan rockstar yang saya duga, bahkan berbanding terbalik dengan ketenarannya sebagai musisi kelas dunia. Suasana riuh rendah di ruangan itu mendadak sunyi, menunggu reaksi Paul selanjutnya. Seluruh mata tertuju padanya. Dia menarik nafas, tersenyum dan berkata, “Okay, fire up!” 


Di salah satu lagu, Anda berujar, “We can do what we want, we can live as we choose.” Apakah seorang Paul McCartney masih bisa melakukan itu sekarang?

Menjadi seorang figur tak mencegah kita untuk melakukan apapun. Seperti orang banyak, saya masih pergi ke bioskop, belanja, gym dan keberadaan orang lain tidak pernah jadi masalah untuk saya. Ya, saya masih bisa melakukan banyak hal. Di sisi lain, secara artistik saya juga punya banyak kebebasan, termasuk untuk melakukan hal-hal baru.

Album ini lahir dengan sebuah niatan untuk bereksperimen. Mulanya Anda berinisiatif memilih satu di antara empat produser, namun berakhir bekerja dengan keempat-empatnya. Apakah Anda melihat kesempatan ini lebih seperti kolaborasi, ketimbang hanya bekerja dengan produser pada umumnya?
Pada awalnya saya ingin melihat hasil kolaborasi tiap produser. Semua punya karakter dan keunikan. Produser pertama yang masuk studio dengan saya adalah Paul Epworth. Dia sangat spontan dan gemar bereksperimen. Saat bertemu, dia datang menawarkan segudang ide, termasuk beat drum “dudustak dududustak”, lalu saya duduk di piano jamming bersama. Terciptalah lagu pembuka di album ini. Bersama Mark Ronson pun berbeda. Dia mempelajari lagu saya, memoles suara dan aransemennya tanpa banyak improvisasi. Sedangkan Ethan Johns sangat organik. Dia meminta saya menyanyikan sebuah lagu di hadapannya dan langsung mengajak masuk studio. Saat rekaman usai, saya bahkan tidak yakin kami merekamnya dengan baik, tapi Ethan menganggapnya rampung dengan sempurna. Karenanya, lagu-lagu garapannya terasa lebih manusiawi. Giles Martin, sangat musikal. Dia punya sedikit sifat ayahnya, jadi seperti George Martin baru. Saya sangat senang bekerja dengan mereka. Ditambah, mereka semua kini terlalu tampan [tertawa].


Dalam produksi, Anda menyinggung masuk ke dalam studio yang sangat kecil milik Paul Epworth di London. Apa itu memengaruhi proses pembuatan album ini?

Saya pikir ukuran studio tidak mempengaruhi apapun. Size doesn’t matter. Kamu bisa membuat musik di manapun. Kamu bisa rekaman di mana saja. Studio terbesar termegah bahkan termahal di dunia tidak akan menjamin apapun. Terkadang malah terasa nyaman rekaman dalam studio kecil yang terbatas.


Di lagu “Early Days” Anda menyinggung tentang kesalahpahaman yang terjadi di era The Beatles. Kesalahpahaman macam apa yang Anda maksud?

Lagu itu tentang kenangan saya bersama John (Lennon), mengingat masa lalu. “You can’t take it away from me, cause I was there,” berlaku untuk semua orang, termasuk kalian (para jurnalis). Para jurnalis muda biasa menyatakan hal yang jauh dari realita. Di verse terakhir, saya menekankan poin tentang orang-orang yang “sok tahu”. Terkadang hanya mengenai masalah kecil, tapi yang jadi masalah adalah realita yang terdistorsi. Saya bekerja dengan intim bersama sekelompok orang. Semuanya punya porsi sama rata, dan kami main tanpa ingat siapa yang buat bagian mana. Saat menganalisis, jurnalis mungkin biasa untuk melebih-lebihkan, tapi seringkali tidak berbanding lurus dengan realita. Di beberapa buku yang saya baca, banyak pernyataan “Paul yang membuat part itu”, atau “John yang menulis part itu” atau bahkan “Paul membuat lagu ini sebagai jawaban terhadap lagu yang John buat,” padahal itu salah. Ada banyak sekali fakta yang keliru berkembang mengenai kami (The Beatles) dan dianggap lumrah dan faktual. Terkadang realita yang terdistorsi terlanjur terpatri sebagai sejarah.

Anda juga berkata, “So many times I have to change from pain to laughter to keep me sane”. Ini adalah pernyataan yang sangat sedih, bahkan cenderung depresif.
Menjadi sedih adalah hal yang bagus. Akan terlihat bodoh apabila kita hanya tertawa sepanjang hidup. Saat menulis lagu, kesedihan adalah materi yang baik untuk jadi inspirasi. Saya menulis tentang menyusuri jalanan bersama John dengan sebuah gitar, berpakaian hitam-hitam. Itu adalah sebuah penggalan imaji di alam ingatan. Dan kita akan tersadar bahwa tidak semua perjalanan itu indah. Kadang kita bekerja amat sangat keras, tanpa tidur dan hampir jadi gila. Di konser-konser pertama The Beatles, orang berpikir kami langsung sukses dengan instan, padahal itu tidak benar. Momen itu adalah masa-masa yang sulit dan menyedihkan. Tapi kita akan menertawakan masa itu, dan membuatnya jadi lelucon, karena kita harus bertahan. Itulah saat di mana kita mengubah rasa sedih menjadi tawa.

Anda sudah banyak sekali menciptakan karya, bagaimana Anda mencegah untuk tidak melakukan repetisi?
Saat menulis, saya sering berhenti sejenak untuk berpikir, “Apakah saya pernah menulis itu sebelumnya?” Dan saya melakukan itu terus-menerus. Harus terus mengecek. Saya ingat salah lagu pertama yang Ringo (Starr) tulis, dia datang dan memainkannya, ternyata itu lagu Bob Dylan [tertawa]. Jadi Anda harus terus berhati-hati. Terkadang teman-teman juga mengingatkan, “Materi itu bagus tapi Anda sudah pernah buat itu sebelumnya.”


Apakah Anda merasa beruntung bisa mengekspresikan banyak momen senang dan sedih di dalam sebuah lagu?

Ada beberapa hal yang tidak mungkin Anda tulis jadi sebuah lagu. Tapi pada satu hal semua penulis selalu kembali: masa lalu. Bahkan saat mereka menulis tentang masa depan, seringkali tetap ada elemen masa lalu, dan bagi saya itu penting. Dengan John dan Early Days, saya merasa mengembalikan dia dan kami bersama lagi, jadi untuk saya itu sebuah kemewahan. Saya punya kesadaran penuh bahwa saya menggunakan masa lalu sebagai kekuatan. Dan saya yakin banyak orang juga melakukan itu untuk menulis lagu, tidak hanya saya.


Kenapa butuh enam tahun untuk menyelesaikan album ini?

Pasalnya, saya juga punya beberapa kegiatan yang dikerjakan, selain album. Saya sering sekali mendapatkan tawaran untuk terlibat di dalam berbagai proyek, dari mulai mengisi scoring untuk pertunjukan balet hingga banyak kolaborasi. Inisiatif untuk merampungkan New justru muncul di sela-sela waktu luang saya.


Apa inspirasi untuk album New?

Saya punya kebiasaan baru, inspirasi datang dari Nancy (McCartney). Seusai mengantarkan putri saya ke sekolah, saya akan menulis lagu dan memperdengarkannya pada Nancy melalui telepon. Karena dia tinggal New York, jadi ada beberapa jam perbedaan dengan saya. Itu motivasi yang sangat menyenangkan. Banyak inspirasi album ini datang darinya.


Saat bekerja dengan musisi baru yang lebih muda, menjadi Paul McCartney jadi halangan atau jadi keuntungan buat Anda?

Saya tidak merasa terkenal. Saya berhenti berpikir bahwa saya terkenal, jadi saya bisa bereaksi secara normal dengan orang lain. Kalau tidak, saya akan menjadi sangat angkuh dan menganggap orang lain tidak pantas untuk berada di dalam ruangan yang sama dengan saya. Terkadang juga jadi lumayan pelik. Contohnya saat saya harus memberi tahu seseorang bahwa materinya kurang bagus. Saya selalu mulai dengan menyatakan bahwa kita mulai dari nol, semua setara, semua orang bisa sampaikan ide mereka ke saya dan saya juga sebaliknya. Dan apabila ide mereka lebih bagus, kita akan pakai itu. Jangan merasa malu. Para engineer di album ini lumayan paranoid dengan kualitas vokal saya. Mereka ingin merekam suara saya sesempurna mungkin, sedangkan saya punya motivasi untuk “menghancurkan” suara saya dalam rangka eksplorasi. Jadi saya juga memotivasi orang-orang untuk merasa bebas, dan berikan ide apapun yang mereka punya.

Jangan terlalu menghormati saya.


source: ROLLINGSTONE.CO.ID
Share this article :

Posting Komentar