Tampilkan postingan dengan label legend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label legend. Tampilkan semua postingan

B.B King: Raja Musik Blues Yang Rendah Hati

Senin, 17 Maret 2014 | komentar

Beberapa hari setelah Barack Obama terpilih menjadi presiden Amerika 4 November yang lalu, saya terlibat pembicaraan ringan dengan Taufiq, sesama pemelihara blog sontoloyo ini. Pemilihan itu sangat monumental, terutama bagi warga kulit hitam Amerika. Kebetulan saya berada di Grant Park Chicago pada malam 4 November itu, malam perayaan terpilihnya Barack Obama. Di Grant Park Chicago malam itu saya menyaksikan banyak orang kulit hitam meneteskan airmata menyaksikan Barack Obama menyampaikan pidato kemenangannya. “I cannot believe it”, demikian kata dua orang wanita kulit hitam yang sudah berumur, yang berdiri di belakang saya di taman itu sambil menyeka air mata mereka. Malam itu juga saya melihat beberapa anak muda berkulit hitam memanjat sebuah tembok pendek dekat taman, melampiaskan kegembiraannya dengan berteriak-teriak lantang: “Our president is black!, Our president is black!”.

Saya dan Taufiq kemudian tersadar bahwa blog ini, hingga tanggal 4 November itu, belum pernah menampilkan pemusik berkulit hitam dengan agak panjang, kecuali cuplikan pendek di beberapa posting. Padahal saya, Taufiq, dan Rizal memiliki koleksi piringan hitam dari para pemusik hebat kulit hitam. Dalam koleksi piringan hitam saya misalnya, ada dua album penting Stevie Wonder yang berjudul Songs in the Key of Life (1976, ada dalam urutan 57 dari 500 Greatest Albums of All Time versi majalah Rolling Stone atau RS 500) dan Talking Book (1972, nomor 90 dalam RS 500), That’s the Way of the World dari kelompok Earth, Wind and Fire (1975, nomor 485 dalam list RS 500). Juga ada album salah satu penyanyi favorit saya Marvin Gaye, Let’s Get It On (1973, urutan 164 dalam RS 500).


Tidak perlu saya tulis panjang lebar bagaimana para penyanyi kulit hitam ini digemari tidak hanya oleh mereka yang berkulit hitam, tetapi oleh semua kelompok manusia. Penyanyi-penyanyi kulit hitam ini seolah membuktikan bahwa musik adalah universal, menerobos sekat-sekat yang dibuat oleh manusia. Mereka bermusik dengan passion, soulful, emotional. Mereka bermusik dengan konteks sosial yang mendalam, terkadang getir namun musik mereka mengangkat harapan dan banyak bertema the joy of life.. Kalau diingat-ingat, inilah yang menjadi dasar dari musik jazz dan blues.

Terkadang para pemusik kulit hitam legendaris ini terdengar sensual, namun jauh dari kejorokan. Yang terakhir ini contohnya adalah lagu “Let’s Get It On” dari Marvin Gaye yang sangat romantis. Saya pertama kali mendengar lagu ini dari sebuah adegan dalam film High Fidelity (film drama komedi tentang seorang pemilik toko piringan hitam, kalau Anda belum menonton maka film ini highly recommended). Di ujung film itu, Jack Black menyanyikan lagu ini dengan baik sekali (klik di sini untuk melihat lagu itu dinyanyikan oleh Jack Black, dan klik di sini untuk mendengar Marvin Gaye).

Singkatnya, kita mengenal pemusik-pemusik kulit hitam yang hebat. Maka kali ini saya ingin menulis tentang B.B King., yang disebut-sebut sebagai Raja Musik Blues. Membaca B.B. King dan mendengarkan musiknya seperti membuktikan paragraf saya diatas. Hampir semua orang yang mendengarkan B.B. King akan berkesimpulan sama, bahwa ia bermusik dengan passion, soul, joy dan yang terpenting membawa harapan. Sekali waktu Derek Truck, personil kelompok legendaries Allman Brothers Band berkomentar tentang B.B. King: “he’s the embodiment of breaking through and keeping your spirit. There’s no bitterness. When he sings, it lifts the spirit of the place” (komentar ini dikutip majalah Rolling Stone dalam edisi khususnya tentang 100 Greatest Singers of All Time – yang keluar 13 November 2008).

Kesan seperti itu juga yang saya tangkap dari album B.B. King, Live in Cook County Jail (1971) yang oleh majalah Rolling Stone ditempatkan dalam urutan 499 di RS 500 itu (seperti pernah saya tulis sebelumnya, ada perbedaan versi antara RS 500 versi majalah yang terbit 2003 dan RS 500 edisi buku yang terbit tahun 2005; di edisi majalah album ini belum masuk list). Saya merasa beruntung mendapat album yang sudah lama saya cari-cari ini, dengan harga 5 dolar saja. Minggu lalu saya bersama istri saya jalan-jalan di downtown Geneva (kota sebelah tempat saya sedang belajar ini, bukan Geneva yang di Eropa sana…hehe) dan kami menyempatkan diri mampir di sebuah toko piringan hitam di sana. Dan album ini akhirnya menjadi milik saya.

B.B. King semula adalah pemusik blues yang hingga awal tahun 1960-an hanya dikenal terbatas dikalangan warga kulit hitam. Yang berjasa memperkenalkan B.B King pada audiens anak-anak muda kulit putih dan audiens di dunia luar yang lebih luas, menariknya, adalah grup legendaris rock and roll asal Inggris, The Rolling Stones. Memang para personel The Rolling Stones, terutama Mick Jagger dan Keith Richard, adalah pencinta musik blues Amerika. Pada tahun 1969, The Rolling Stones meminta idolanya B.B. King  untuk membuka 18 konser mereka di berbagai tempat di Amerika Serikat.

Album yang saya dapat minggu lalu ini adalah rekaman dari sebuah penampilan live B.B King di depan 2117 orang kriminal yang ditahan di penjara Cook County, di Chicago pada tahun 1970. Ya, B.B. King memang beberapa kali tampil untuk menghibur para kriminal di penjara. Seperti tertera di sampul album ini, Cook County Jail adalah salah satu penjara paling brutal dan muram di negara bagian Illinois pada waktu itu (akhir tahun 1960-an). Tidak mengherankan apabila cerita yang ditulis Geoffrey Harding di sampul belakang album ini dimulai dengan kalimat: “jail, very simple, is one helluva place to be”. Cook County Jail ketika itu adalah tempat yang kelam. Obat bius, pembunuhan, perkelahian dan hukum rimba adalah hal rutin di sana tanpa ada seorang pun yang bisa mencegahnya.

Pada tahun 1968, seorang psikolog berkulit hitam bernama Winston E. Moore ditunjuk menjadi kepala penjara Cook County yang baru. Dengan susah payah ia mereformasi Cook County Jail dan akhirnya bisa menaklukan para kriminal yang sebelumnya seperti menjadi raja di dalam penjara. Musik adalah salah satu metode Winston Moore untuk meluluhkan para kriminal berhati keras dan brutal itu. Selama tahun 1970, Cook County Jail mendatangkan berbagai pemusik untuk tampil di sana. Kita amat beruntung karena Winston Moore ‘bertemu’ B.B. King dan selanjutnya kita bisa menikmati musik yang sungguh indah lewat album Live in Cook County Jail ini.

Ketika diminta tampil di penjara Cook County, B.B. King langsung mengiyakan dan hanya mengajukan satu pertanyaan: “when do you want me”? Padahal, di masa itu, B.B King sudah menjadi pemusik sangat terkenal, dikenal sebagai raja musik blues yang dikenal dengan panggilannya “chairman of the board of blues singers”. Penghuni Cook County Jail sudah pasti bergembira dan sangat tersentuh bahwa seorang pemusik legendaris mau hadir ditengah mereka.

kingbackcoverBegitulah, B.B King tampil dengan set panggung sederhana, dihadapan para kriminal yang dua tahun sebelumnya masih sangat ganas dan beringas. Bisa dilihat dari sampul belakang album ini bagaimana 2117 narapidana itu duduk manis di lapangan rumput. Konser itupun diadakan dengan pengamanan sangat minimal, Cook County Jail yakin bahwa B.B. King akan memenangkan hati para narapidana itu.

Dalam konser di Cook County Jail ini B.B. King menghibur para narapidana dengan lagu-lagu legendaris-nya, seperti “How Blue Can You Get?”, “The Thrill Is Gone”, “Please Accept My Love” dan juga sebuah lagu Medley dari “3 O’Clock Blues/Darlin’ You Know I Love You”. Lagu-lagu “How Blue Can You Get” dan “The Thrill Is Gone” dimasukan ke dalam list 100 Greatest Guitar Songs of All Time oleh majalah Rolling Stone (masing-masing di nomor 26 dan 68, lihat RS edisi June 12, 2008). Sayang sekali tidak ada rekaman video penampilan B.B. King di Cook County Jail ini, namun video B.B. King menyanyikan “The Thrill is Gone” dan “How Blue Can You Get” bisa dlihat di sini dan di sini.

Memang B.B. King menerima penghormatan darimana-mana. Musiknya dianggap mempengaruhi dan memberi inspirasi banyak orang. Ia diabadikan dalam the Blues Foundation Hall of Fame pada tahun 1984. Selanjutnya ia juga diabadikan kedalam Rock and Roll Hall of Fame di tahun 1987. Pada tahun 1990, B.B. King mendapat anugerah Songwriters Hall of Fame Lifetime Achievement Award. Ia juga mendapat gelar doktor kehormatan dari Yale University (1977), Berklee College of Music (1982), dan Brown University (2007). Memang, menurut saya, musik dan ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah dua sisi dari sebuah koin yang sama yang bernama ‘soul searching’.

Dengan seluruh pencapaiannya ini, B.B. King sebetulnya berhak untuk menjadi sombong, namun itu tidak dilakukannya. Ia dikenal sebagai orang rendah hati. Seperti ditulis oleh Geoffrey Harding dalam sampul album Live in Cook County Jail ini: “B.B. King – Cook County Jail, is a manifestation of human generosity and beauty on B.B. part, and the raw appreciation of 2117 of his most ardent fans”.

Sekali waktu saya membaca wawancara B.B. King di majalah Rolling Stone edisi khusus 100 Greatest Guitar Songs of All Time yang saya sebut sebelumnya. Dari wawancara itu saya bisa meraba bahwa B.B King adalah figur yang rendah hati.

Ini kutipan dialog RS dengan B.B. King:

RS: “When did you realize that your style was having a wide influence?”

B.B: “Well, I was watching TV one night, and the lead singer of the Beatles – John Lennon – said he wished he could play like B.B. King. I almost fell out of my chair. And that started me to thinking, “God, what am I doing?” The greatest group on Earth, and the guy is saying that to me?”

Tidak mengherankan apabila B.B. King telah menyentuh hati banyak orang yang menikmati musiknya, termasuk mereka yang berada di pojok-pojok kelam kehidupan, seperti Cook County Jail itu.

Maka saya menganggukan kepala saat membaca paragraf terakhir tulisan Geoffrey Harding di sampul belakang album Live in Cook County Jail ini:

“B.B.’s performance will forever be a memory to all of us, especially to Winston Moore who rung B.B.’s hand dry with appreciative thanks. From  2117 of your fans, thank you B.B. King, for your generosity and kindness; and most of all for not forgetting us”.

philips vermonte

link sumber: berburuvinyl.wordpress.com/2008/11/28/bb-king-raja-musik-blues-yang-rendah-hati/

John Lennon : Power To People

Sabtu, 01 Maret 2014 | komentar

Tiga puluh tahun lalu, 8 Desember 1980, sebuah pistol menyalak melesatkan lima butir peluru. Hanya satu peluru yang meleset, sisanya melubangi tubuh  John Lennon. Tubuhnya terkulai, tepat di depan rumahnya di Dakota  Manhattan, New York. Tak lama berselang, dari St. Luke’s Roosevelt Hospital Center, tersiar kabar John Lennon tewas.

John Lennon tewas di pusat kota yang mengendalikan perekonomian dunia. Di New York ada Wall Streets. Bila Wall Streets oleng, tidak hanya para bankir dan pemilik transcorporation yang linglung, setiap penjuru dunia pun ikut terguncang.  Itulah sudut pandang Oliver Stone melalui sekuel film “Wall Streets : Money Never Sleeps”.

New York pun punya sisi lain. Dalam film “Gangsters of New York”, tergambarkan bagaimana para begundal menjadikan darah sebagai tinta yang menorehkan sejarah berdirinya Kota New York.

“Berhati-hatilah, John. Terlalu banyak orang sinting di negara itu,” Tariq Ali  mengingatkan John Lennon suatu hari, ketika ia hendak hijrah ke Amerika. Tariq Ali adalah seorang ahli sejarah, aktivis, dan juga jurnalis dari majalah bawah tanah Red Mole di Inggris. Hasil wawancara dan pertemanannya dengan John Lennon kemudian dibukukan dalam Memories of John Lennon, yang diedit dan kata pengantarnya oleh Yoko Ono, istri John Lennon.

John Lennon terlanjur kecewa dengan Inggris. Menurutnya, tabloid di Inggris tampak naïf dan rasis. Terutama sorotannya terhadap kehadiran Yoko Ono yang dianggap sebagai pemecah The Beatles.

Tapi, Tariq memiliki catatan lain. Yoko memberi kekuatan warna lain terhadap John Lennon. John menjadi lebih radikal  dalam artistik dan politik. Suatu hari, melalui telepon, John Lennon mengatakan kepada Tariq bahwa ia terinspirasi selama diwawancarai olehnya. John pun menyanyikan ciptaannya melalui telepon. Tariq orang pertama yang mendengar lagu ‘Power To  People’ (Power To  People pun dijadikan judul album kompilasi lagu-lagu hit John Lennon dan telah dirilis  Oktober 2010, untuk menyambut ultah John Lennon).

Setelah bersolo karir, kekhawatiran Brian Epstein – mantan manajer The Beatles – akan tabiat John, menjadi semakin nyata. Menurut Epstein, pandangan John Lennon menjadi ultra-subversif dan politis. Dalam album solo pertamanya John Lennon/Plastic Ono Band, lagu ‘God’ menegaskan bahwa hanya dirinyalah yang layak dipercayai daripada Bible, Hitler, The Beatles, Kennedy hingga Jesus. Sementara lagu lainnya, ‘Working Class Hero’ : “It is about working class individuals being processed into the middle class, into the machine,”  tutur John, dalam sebuah wawancara dengan Jann S. Wenner dari Rolling Stone Magazine (1970).

Kehadiran Yoko pun memberikan polesan feminis pada John. Simaklah, ‘Woman Is The Nigger of The World’, single yang dirilis pada 1972.  John Lennon memotret adanya sikap tunduk dan takluk kaum perempuan terhadap laki-laki melintasi seluruh budaya.

Kegundahan dan pemberontakkan John Lennon bak karaben yang memuntahkan peluru sinisme dan kritiknya ke berbagai ranah. Tidak hanya dituangkan menjadi lagu, bila perlu ia pun ikut berdemontrasi. Bulan madunya dengan Yoko menjadi ajang protes anti-perang, sebuah peristiwa yang menghebohkan, Bed-In for Peace di Belanda dan Kanada. Peristiwa lainnya, John mengembalikan Members of The Order of The British Empire (MBE) karena keterlibatan Inggris dalam perang sipil di Nigeria serta dukungan negaranya pada perang Vietnam. Dalam konteks inilah, lagu ‘Imagine’ dan ‘Give Peace a Chance’ pun menjadi anti-war anthem.

Imagine John Lennon Dead

Apa yang ditengarai Tariq Ali bahwa di Amerika banyak orang sinting pun menjadi kenyataan. “Kesintingan” itu terlihat pada Mark David Chapman, ia memuja The Beatles dan John Lennon. Bahkan perjalanan hidupnya mirip dengan John, Chapman pernah menikahi perempuan berdarah Jepang juga. Namun ketika Chapman menjadi Kristen fundamentalis, ia melihat bahwa John Lennon adalah orang yang berbahaya karena pandangannya terhadap agama dan negara

Kala lagu ‘Imagine’ mencapai puncaknya pada 1971, Chapman memparodikan lagu itu menjadi “Imagine John Lennnon Died.” Sembilan tahun kemudian, Chapman merealisasikan impiannya.

Kini, para pecinta John Lennon hanya tinggal mengenang dan juga mereflesikan pandangannya. Pada sebuah untaian mosaik sambil menatap sebuah lingkaran yang bertuliskan ‘Imagine’, di Strawberry Fields Memorial, Central Park New York.

Bahkan, ketika terjadi peristiwa pengeboman WTC (9/11/01), masyarakat pecinta damai  mengenang peristiwa itu di Strawberry Fields Memorial. Lihatlah, betapa dahsyat dampak pasca WTC. Tidak sedikit masyarakat Barat dirasuki pandangan Islam-fobia. Presiden Amerika George W. Bush menerapkan kebijakan diskriminatif di negaranya. Bush juga mengajak Negara Inggris dan lainnya untuk meluluhlantakkan Irak, dengan alasan yang tidak terbukti, Irak memiliki senjata pemusnah massal.

Peristiwa ini pun disusul maraknya demontrasi global menentang Bush-Blair ketika perang Irak terjadi. Dalam suasana seperti ini, Tariq Ali teringat akan sahabatnya John Lennon. Tariq merasakan semangat John Lennon menyertainya saat berdemonstrasi.

Ya, semangat kata-kata yang Tariq edit dari jawaban John Lennon terhadap surat terbukanya kritikus musik/pop kultur,  John Hoyland, yang mengaji dengan kritis album Revolution – The Beatles di majalah politik-budaya radikal Black Dwarf  (sebelum pecah menjadi Red Mole). Hoyland memandang bahwa album Revolution terlalu santun untuk sebuah revolusi. Dan, John Lennon pun menjawabnya :

“…. Anda kira semua musuh mengenakan lencana kapitalis sehingga Anda dapat menembaki mereka? Itu sedikit naif John……. Daripada bertengkar karena masalah kecil soal The Beatles dan The Stones – pikirkanlah hal yang lebih besar… Lihatlah pada dunia tempat kita tinggal dan tanyalah pada diri sendiri: mengapa? Lalu – datang dan bergabunglah bersama kami….”

Love,

John Lennon


source: www.uncluster.com/IN/articles/john-lennon-power-to-people/