"Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band" Album Terbaik Sepanjang Masa

Rabu, 26 Februari 2014 | komentar

Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band Album Cover
Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band adalah album rock’n’roll terpenting yang pernah dibuat, yang merupakan petualangan tak terbatas baik dalam konsep, suara, penulisan lagu, sampul depan, maupun teknologi rekaman. Album yang terdiri dari 13 nomor ini menjadi puncak karya The Beatles setelah menjalani karier selama delapan tahun.

Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr bersatu padu dan berani melakukan apa pun untuk menciptakan karya yang magis dan transcend ini. Ada suara orkestra, ada brass section,
dan ada permainan gitar serta piano yang belum pernah terdengar sebelumnya.

Dirilis di Inggris tanggal 1 Juni 1967, Sgt. Pepper’s juga menjadi deklarasi mahapenting bagi perubahan musik rock. Bagi The Beatles sendiri, album ini menjadi ucapan selamat tinggal kepada "Beatlemania", tur dunia, dan lagu-lagu cinta.

"Waktu itu kami sudah muak menjadi The Beatles. Kami bukan lagi anak-anak, namun sudah menjadi lelaki dewasa. Kami sudah menjadi artis, bukan lagi musisi pertunjukan," kata McCartney dalam biografinya, Many Years From Now, yang ditulis oleh Barry Miles.

Di saat yang sama, Sgt. Pepper’s seperti menjadi petunjuk bagi sebuah musim yang penuh harapan, penuh gejolak, dan juga penuh pencapaian di akhir dekade 1960, khususnya "Summer Of Love" tahun 1967.

Dengan warna-warni instrumentasi dan lirik yang penuh fantasi, Sgt. Pepper’s membuat subur optimisme psikedelia dan menyebarkan cinta sekaligus narkotika.

Sejak itu dan sampai kini belum ada album yang berhasil menimbulkan dampak sedahsyat Sgt. Pepper’s. Musik album ini menjadi dokumentasi band rock terbesar di dunia yang berada di puncak tertinggi dalam menyebarkan pengaruh dan memenuhi ambisi mereka.

"Itu menjadi puncak," kata Lennon tahun 1970 tentang Sgt. Pepper’s dan kolaborasinya dengan McCartney. "Paul dan saya jelas bekerja bersama-sama," sambung Lennon. McCartney menyumbang (Woke up, fell out of bed) untuk nomor Lennon, A Day In The Life, dan sebaliknya Lennon untuk McCartney (It can’t get no worse) dalam nomor Getting Better.

"Sgt. Pepper’s merupakan upaya terbesar kami," kata Starr dalam otobiografi The Beatles Anthology. "Hal yang paling mendasar. Siapa pun yang punya ide terbaik, itulah yang dipakai. Tidak ada yang egois mengatakan ’itu ide saya’," ujar Starr.

Dua komposisi pertama Sgt. Pepper’s direkam tanggal 6 Desember 1966, yakni When I’m Sixty Four karya McCartney dan Strawberry Fields Forever milik Lennon. Namun, "ulang tahun" Sgt. Pepper’s terjadi tanggal 29 Agustus 1966 tatkala The Beatles tampil dalam konser terakhir mereka di San Francisco, Amerika Serikat.

Semuanya dimulai oleh McCartney ketika berada di pesawat dalam perjalanan ke London, Inggris, dari liburan di Kenya bulan November 1966. Ia mengusulkan agar The Beatles tampil sebagai band rekaan atau fiktif, yang bernama Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band.

"Kami berpura-pura menjadi orang lain," katanya dalam buku The Beatles Anthology. "Dengan begitu, Anda merasa terbebaskan. Anda bisa melakukan apa pun di saat berada di depan corong suara dan memainkan gitar karena itu bukanlah Anda," lanjutnya.

Sebetulnya cuma ada dua lagu McCartney yang berkaitan langsung dengan band rekaan tersebut, yakni nomor Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band itu sendiri dan With A Little Help From My Friends yang dinyanyikan oleh Starr. "Lagu-lagu lainnya tidak berkaitan dan bisa saja dimasukan ke album-album yang lain," ungkap Lennon.

Meskipun begitu, lagu-lagu seperti Being For The Benefit Of Mr Kite! karya Lennon dan Fixing A Hole milik McCartney sungguh cocok menempati alur cerita Sgt. Pepper’s. Lebih dari itu, keseluruhan album Sgt. Pepper’s merupakan sebuah musik yang kohesif yang bercerita tentang keadaan sehari-hari.

Dari sekitar 700 jam yang dihabiskan ketika merekam Sgt. Pepper’s mulai akhir tahun 1966 sampai April 1967, The Beatles cuma memerlukan waktu tiga hari untuk menyelesaikan Lucy In The Sky With Diamonds. Adapun nomor yang paling kompleks, A Day In The Life, membutuhkan waktu penyelesaian selama lima hari.

Uniknya, suara piano dalam nomor A Day In The Life dimainkan oleh lima orang: Lennon, McCartney, Starr, George Martin (produser), dan Mal Evans (roadie The Beatles). Sementara Within You Without You, yang menjadi pembuka Muka Dua piringan hitam Sgt. Pepper’s, hanya menampilkan rekaman Harrison seorang diri.

Sampul depan album Sgt. Pepper’s menjadi mahakarya seni visual tersendiri. Keempat personel The Beatles yang dengan pakaian marching band yang terbuat dari satin yang difoto oleh Michael Cooper berdiri di depan papan bergambar (cardboard) tokoh-tokoh sejarah hasil karya Peter Blake.

Sgt. Pepper’s juga menjadi album rock pertama yang memuat lengkap lirik semua lagu. "Walaupun begitu, Sgt. Pepper’s menempati urutan pertama 500 Album Terbaik Sepanjang Masa bukan karena menjadi pelopor serba pertama. Ia karya terbaik yang pernah dilakukan The Beatles sebagai musisi, pelopor, dan bintang pop," tulis Rolling Stone.

"Seperti kata McCartney, album itu seperti ’kami sedang mengadakan sebuah pertunjukan yang bagus’. Pertunjukan itu tidak pernah berhenti," tulis Rolling Stone lagi.

source: google.co.id

Wawancara Exclusive: Sir Paul McCartney

Jumat, 21 Februari 2014 | komentar



Oleh: Teguh Wicaksono /rollingstone.co.id

London - Para bijak dan cendekia kerap berujar bahwa manusia wajib tahu kapan harus berkata cukup. Nampaknya hal itu tak pernah berlaku untuk Paul McCartney.

Setelah Fab Four, dia adalah Beatle yang paling produktif; berkarya dalam berbagai platform, termasuk proyek scoring, tur, bahkan album dengan genre klasik, elektronik hingga menggelar pameran lukisan karya-karya pribadinya.

Tidak cukup sampai di situ, McCartney banyak terlibat dalam berbagai kegiatan amal, dari PETA hingga komunitas vegetarian. Pada 2011 dia menikahi Nancy Shevell dan memulai lembaran rumah tangga baru. Dengan status legenda dan karier secemerlang Macca (panggilannya), mungkin hanya satu pertanyaan yang terus bergaung di dalam benaknya: Apa selanjutnya?

New – album solo Paul ke-16 – adalah jawabannya. Diracik bersama empat produser muda dengan karakteristik yang berbeda (Mark Ronson, Paul Epworth, Giles Martin dan Ethan Johns), New adalah pencapaian baru bagi McCartney yang berusia 71 tahun ini. Dengan jam terbang puluhan tahun, keputusan untuk keluar dari zona kenyamanan dan mencoba cara-cara baru adalah hal yang patut diacungi jempol. Saat kebanyakan musisi senior hanya mengulangi jurus yang sama, dia selalu haus akan hal baru.

Memilih New sebagai judul album merupakan langkah yang jenius. Di hadapan dunia, cukup sukar untuk menggali hal baru tentang Macca. Semua orang mengenalnya, memujanya, mengangguk setuju kepada karya-karyanya. Lalu, apa lagi yang baru? Paradoks yang sempurna.

Sambil bersenandung dalam rangka mengenyahkan rasa gelisah, di hadapan cermin toilet saya membetulkan posisi kemeja yang lumayan basah karena hujan yang menyiram London siang itu. Dalam waktu sepuluh menit saya dan beberapa wartawan lain dari mancanegara akan bertatap muka dengan seorang legenda dan saya tidak mau terlihat lusuh.

Di antara keramaian santap siang di lokasi wawancara The London Edition, saya dipandu ke sebuah ruangan pertemuan bawah tanah bermandikan cahaya keunguan, tampak seperti sebuah bilik dari zaman kerajaan. Sayup-sayup lagu-lagu dari New berkumandang menjadi latar suara.

Tak lama setelah saya mendaratkan tubuh di salah satu kursi, Paul tiba. “What a scary place for an interview!” tukasnya dengan aksen Scouse yang kental, bercanda seraya tertawa dan duduk berhadapan dengan saya. Auranya jauh dari kesan rockstar yang saya duga, bahkan berbanding terbalik dengan ketenarannya sebagai musisi kelas dunia. Suasana riuh rendah di ruangan itu mendadak sunyi, menunggu reaksi Paul selanjutnya. Seluruh mata tertuju padanya. Dia menarik nafas, tersenyum dan berkata, “Okay, fire up!” 


Di salah satu lagu, Anda berujar, “We can do what we want, we can live as we choose.” Apakah seorang Paul McCartney masih bisa melakukan itu sekarang?

Menjadi seorang figur tak mencegah kita untuk melakukan apapun. Seperti orang banyak, saya masih pergi ke bioskop, belanja, gym dan keberadaan orang lain tidak pernah jadi masalah untuk saya. Ya, saya masih bisa melakukan banyak hal. Di sisi lain, secara artistik saya juga punya banyak kebebasan, termasuk untuk melakukan hal-hal baru.

Album ini lahir dengan sebuah niatan untuk bereksperimen. Mulanya Anda berinisiatif memilih satu di antara empat produser, namun berakhir bekerja dengan keempat-empatnya. Apakah Anda melihat kesempatan ini lebih seperti kolaborasi, ketimbang hanya bekerja dengan produser pada umumnya?
Pada awalnya saya ingin melihat hasil kolaborasi tiap produser. Semua punya karakter dan keunikan. Produser pertama yang masuk studio dengan saya adalah Paul Epworth. Dia sangat spontan dan gemar bereksperimen. Saat bertemu, dia datang menawarkan segudang ide, termasuk beat drum “dudustak dududustak”, lalu saya duduk di piano jamming bersama. Terciptalah lagu pembuka di album ini. Bersama Mark Ronson pun berbeda. Dia mempelajari lagu saya, memoles suara dan aransemennya tanpa banyak improvisasi. Sedangkan Ethan Johns sangat organik. Dia meminta saya menyanyikan sebuah lagu di hadapannya dan langsung mengajak masuk studio. Saat rekaman usai, saya bahkan tidak yakin kami merekamnya dengan baik, tapi Ethan menganggapnya rampung dengan sempurna. Karenanya, lagu-lagu garapannya terasa lebih manusiawi. Giles Martin, sangat musikal. Dia punya sedikit sifat ayahnya, jadi seperti George Martin baru. Saya sangat senang bekerja dengan mereka. Ditambah, mereka semua kini terlalu tampan [tertawa].


Dalam produksi, Anda menyinggung masuk ke dalam studio yang sangat kecil milik Paul Epworth di London. Apa itu memengaruhi proses pembuatan album ini?

Saya pikir ukuran studio tidak mempengaruhi apapun. Size doesn’t matter. Kamu bisa membuat musik di manapun. Kamu bisa rekaman di mana saja. Studio terbesar termegah bahkan termahal di dunia tidak akan menjamin apapun. Terkadang malah terasa nyaman rekaman dalam studio kecil yang terbatas.


Di lagu “Early Days” Anda menyinggung tentang kesalahpahaman yang terjadi di era The Beatles. Kesalahpahaman macam apa yang Anda maksud?

Lagu itu tentang kenangan saya bersama John (Lennon), mengingat masa lalu. “You can’t take it away from me, cause I was there,” berlaku untuk semua orang, termasuk kalian (para jurnalis). Para jurnalis muda biasa menyatakan hal yang jauh dari realita. Di verse terakhir, saya menekankan poin tentang orang-orang yang “sok tahu”. Terkadang hanya mengenai masalah kecil, tapi yang jadi masalah adalah realita yang terdistorsi. Saya bekerja dengan intim bersama sekelompok orang. Semuanya punya porsi sama rata, dan kami main tanpa ingat siapa yang buat bagian mana. Saat menganalisis, jurnalis mungkin biasa untuk melebih-lebihkan, tapi seringkali tidak berbanding lurus dengan realita. Di beberapa buku yang saya baca, banyak pernyataan “Paul yang membuat part itu”, atau “John yang menulis part itu” atau bahkan “Paul membuat lagu ini sebagai jawaban terhadap lagu yang John buat,” padahal itu salah. Ada banyak sekali fakta yang keliru berkembang mengenai kami (The Beatles) dan dianggap lumrah dan faktual. Terkadang realita yang terdistorsi terlanjur terpatri sebagai sejarah.

Anda juga berkata, “So many times I have to change from pain to laughter to keep me sane”. Ini adalah pernyataan yang sangat sedih, bahkan cenderung depresif.
Menjadi sedih adalah hal yang bagus. Akan terlihat bodoh apabila kita hanya tertawa sepanjang hidup. Saat menulis lagu, kesedihan adalah materi yang baik untuk jadi inspirasi. Saya menulis tentang menyusuri jalanan bersama John dengan sebuah gitar, berpakaian hitam-hitam. Itu adalah sebuah penggalan imaji di alam ingatan. Dan kita akan tersadar bahwa tidak semua perjalanan itu indah. Kadang kita bekerja amat sangat keras, tanpa tidur dan hampir jadi gila. Di konser-konser pertama The Beatles, orang berpikir kami langsung sukses dengan instan, padahal itu tidak benar. Momen itu adalah masa-masa yang sulit dan menyedihkan. Tapi kita akan menertawakan masa itu, dan membuatnya jadi lelucon, karena kita harus bertahan. Itulah saat di mana kita mengubah rasa sedih menjadi tawa.

Anda sudah banyak sekali menciptakan karya, bagaimana Anda mencegah untuk tidak melakukan repetisi?
Saat menulis, saya sering berhenti sejenak untuk berpikir, “Apakah saya pernah menulis itu sebelumnya?” Dan saya melakukan itu terus-menerus. Harus terus mengecek. Saya ingat salah lagu pertama yang Ringo (Starr) tulis, dia datang dan memainkannya, ternyata itu lagu Bob Dylan [tertawa]. Jadi Anda harus terus berhati-hati. Terkadang teman-teman juga mengingatkan, “Materi itu bagus tapi Anda sudah pernah buat itu sebelumnya.”


Apakah Anda merasa beruntung bisa mengekspresikan banyak momen senang dan sedih di dalam sebuah lagu?

Ada beberapa hal yang tidak mungkin Anda tulis jadi sebuah lagu. Tapi pada satu hal semua penulis selalu kembali: masa lalu. Bahkan saat mereka menulis tentang masa depan, seringkali tetap ada elemen masa lalu, dan bagi saya itu penting. Dengan John dan Early Days, saya merasa mengembalikan dia dan kami bersama lagi, jadi untuk saya itu sebuah kemewahan. Saya punya kesadaran penuh bahwa saya menggunakan masa lalu sebagai kekuatan. Dan saya yakin banyak orang juga melakukan itu untuk menulis lagu, tidak hanya saya.


Kenapa butuh enam tahun untuk menyelesaikan album ini?

Pasalnya, saya juga punya beberapa kegiatan yang dikerjakan, selain album. Saya sering sekali mendapatkan tawaran untuk terlibat di dalam berbagai proyek, dari mulai mengisi scoring untuk pertunjukan balet hingga banyak kolaborasi. Inisiatif untuk merampungkan New justru muncul di sela-sela waktu luang saya.


Apa inspirasi untuk album New?

Saya punya kebiasaan baru, inspirasi datang dari Nancy (McCartney). Seusai mengantarkan putri saya ke sekolah, saya akan menulis lagu dan memperdengarkannya pada Nancy melalui telepon. Karena dia tinggal New York, jadi ada beberapa jam perbedaan dengan saya. Itu motivasi yang sangat menyenangkan. Banyak inspirasi album ini datang darinya.


Saat bekerja dengan musisi baru yang lebih muda, menjadi Paul McCartney jadi halangan atau jadi keuntungan buat Anda?

Saya tidak merasa terkenal. Saya berhenti berpikir bahwa saya terkenal, jadi saya bisa bereaksi secara normal dengan orang lain. Kalau tidak, saya akan menjadi sangat angkuh dan menganggap orang lain tidak pantas untuk berada di dalam ruangan yang sama dengan saya. Terkadang juga jadi lumayan pelik. Contohnya saat saya harus memberi tahu seseorang bahwa materinya kurang bagus. Saya selalu mulai dengan menyatakan bahwa kita mulai dari nol, semua setara, semua orang bisa sampaikan ide mereka ke saya dan saya juga sebaliknya. Dan apabila ide mereka lebih bagus, kita akan pakai itu. Jangan merasa malu. Para engineer di album ini lumayan paranoid dengan kualitas vokal saya. Mereka ingin merekam suara saya sesempurna mungkin, sedangkan saya punya motivasi untuk “menghancurkan” suara saya dalam rangka eksplorasi. Jadi saya juga memotivasi orang-orang untuk merasa bebas, dan berikan ide apapun yang mereka punya.

Jangan terlalu menghormati saya.


source: ROLLINGSTONE.CO.ID

Humor: Dongeng Putri Salju Versi (Beta) Lucu

Selasa, 18 Februari 2014 | komentar



Pada suatu hari ketika musim salju, seorang ratu sedang menjahit dan tanpa sengaja jarinya terkena jarum dan berdarah.“Yee, orang aku pakai mesin jahit kok…”

Tiba-tiba mesin jahitnya meledak! Bunyinya BUM! Ruangan sang ratu menjahit hancur berkeping-keping, mesin jahit itu hancur lebur, ruangan-ruangan di sebelahnya rusak parah, saluran listrik, air, gas, telpon, internet, satelit, dan eee… sambungan telpon dengan benang, semuanya nonaktif. Bisa dibayangkan dong gimana keadaan sang ratu… Jari sang ratu terkena jarum dan berdarah.



Sang ratu melihat tetesan darah yang terjatuh di atas salju putih.

“Seandainya saja aku memiliki anak perempuan yang seputih salju, semerah darah, dan sehitam bingkai jendela itu.”



Disana nggak ada bingkai jendela, sungguh.

Beberapa tahun kemudian sang ratu melahirkan anak perempuan yang sesuai keinginannya. Kulitnya hitam, matanya merah, dan rambutnya putih.



Sang ratu nggak ingin anak seperti itu, jadi kelahiran anaknya tadi dibatalkan. Kemudian ia menggambarkan gambar anak yang diinginkannya, berkulit putih kemerahan dan berambut hitam seperti bingkai jendela itu.



Bingkai jendela yang mana sih?

Sang ratu kemudian menyerahkan draft itu ke desainer dan kemudian desainer menyerahkan pada dokter. Sang ratu melahirkan anak sesuai keinginannya, dan anak itu dinamai Snow White. Tidak lama kemudian sang ratu meninggal, kematiannya dimungkinkan karena keracunan, sebab ditemukan zat pewarna putih, hitam, dan merah di rahimnya. Hitamnya seperti bingkai jendela itu.



Bingkai yang di dekat vas itu bukan?

Sang raja yang mengetahui kematian istri yang sangat dicintainya sepenuh hati shock berat, karena itulah ia menikah lagi dengan wanita cantik yang ia pilih dari seluruh penjuru dunia, saking shocknya.

Meskipun cantik, wanita itu agak aneh. Ia sering bicara sendiri dengan cermin, padahal di kerajaan nggak ada cermin. Karena itu ia mendatangi toko cermin.

“Mas, ada cermin yang enak diajak omong nggak?”

Penjual cermin berpikir, dia ini pasti ratu talking-to-mirror-mirror-hanging-on-the-wall-you-do-not-have-to-tell-me-who-is-the-biggest-fool-of-all yang dinikahi raja. Tapi bagaimanapun juga ia sangat menghormati raja.

“Hei, ratu bodoh! Kalau mau cermin ke belakang sana! Apa?! Gitu aja minta diantar?! Manja!”

Ratu sangat terkejut, ia menangis…

“Ternyata ada juga yang tahu kalau aku ini bodoh, aku sangat terharu…”

Ratu baru itu kemudian tiba di ruangan penuh cermin. Ia mengajak salah satu cermin bicara.

“Cermin-cermin di dinding, siapakah gadis yang paling cantik?”

Cermin itu kemudian menjawab.

“Hei, siapa yang kamu maksud? Aku?”

“Yaaa… Iyalaaah…”

“Kalau gitu jangan pakai jamak, dasar ratu bodoh!”

“Wah kamu juga tahu kalau aku bodoh! (senang) Baiklah, cermin di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”

“Tergantung…”

“Tergantung?”

“Kamu sudah melakukan hal itu dengan raja belum?”

“Hal itu? Hal yang… Itu? I… tu… Eh, gimana yaaa… Belum…”

“Heh (menyindir), dasar anak-anak.”

“Apa maksudmu?!”

“Kamu nggak tahu ya? Aku dengan istriku sudah melakukan itu puluhan kali.”

“Puluhan kali? Melakukan apa? Gimana?”

“Sudah ah, aku nggak mau menanggapi anak kecil. Bye.”

“…”

Ratu baru itu masih agak bingung. Ia pun memilih cermin lain.

“Cermin, apakah aku paling cantik?”

“Tidak.”

“Apa aku cantik?”

“Tidak.”

“Apa aku cantik?!”

“Tidak.”

“Apa kamu bisa berbicara yang lain selain tidak?!”

“Coba lagi.”

“Apa aku cantik?”

“Tidak.”

“…”

Ratu itu merasa pernah melihat hal yang sama di acara televisi kerajaan.

Ratu itu pun pasrah dan meninggalkan toko. Seketika ia kembali ia dibelikan cermin oleh raja. Ia senang dan mulai mengajak cermin itu bicara.

“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”

“Thou, O Queen, art the fairiest of all!”

Ratu itu tidak tahu bahasa asing, tapi ia sangat senang karena ia baru kali ini mendengar cermin berbicara. Raja yang mengetahui itupun jadi senang.

“Ternyata ia memang suka dengan cermin talking-only-thou-punctuation-o-queen-punctuation-art-the-fairiest-of-all-exclamation yang kubelikan.”

Tetapi hal itu tidak lama, tujuh tahun setelah itu (itu lama yo…) Snow White telah menjadi gadis kecil yang cantik. Kulitnya yang putih kemerahan menjadi sangat indah, dan rambutnya yang hitam menjadi sangat menyerupai bingkai jendela itu.



Kalau bukan yang di dekat vas berarti yang mana?

Ketika ratu baru (sudah tujuh tahun, sudah lama berarti) itu mencoba berkata pada cermin, ia terkejut.

“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”

“Thou art fairer than all who are here, Lady Queen. But more beautiful still is Snow-white, as I ween.”

“Apa?! Mengapa bicaramu berganti jadi panjang? Pendek aja aku nggak ngerti!”

Raja yang mengetahui hal itu cukup kecewa juga.

“Kenapa ia tidak suka dengan cermin talking-only-thou-art-fairier-than-all-who-are-here-punctuation-lady-queen-full-stop-but-more-beautiful-still-is-sno-white-punctuation-as-i-ween-full-stop yang baru? Padahal cermin itu lebih mahal?”

Ratu menjadi marah kepada Snow White karena namanya disebut di cermin. Ia pun menyuruh assasin untuk membunuh Snow White dan membawa hatinya sebagai bukti.

“Hei, ass! bunuh Snow White dan bawa kesini hatinya.”

“Kok aku dipanggil ass, sih? Ya udah, nggak papa, nggak ada yang senang kalau aku hidup.”

Assasin itu pergi dengan langkah lemas.

Tidak butuh waktu lama untuk assasin menemukan Snow White, Snow White berada di depan pintu kamar ratu.

“Hai, asin! Mau nemuin mama ya?”

“Mengapa sekarang aku dipanggil asin? Nasibku…”

“Kenapa, asin?”

“Nggak papa, kalau gitu aku nemuin mamamu dulu ya…”

“Oke deh kalau gitu…”

Assasin kembali ke kamar ratu.

“Ratu mencari saya? Atau saya mencari ratu?”

“Lho, udah kembali kamu. Gimana ass? Udah dapet hatinya Snow White?”

“Eh, hati? Hati… Oh! Err… Anu…”

“Wow! Apakah bola yang kamu pegang itu hatinya Snow White? Bagus sekali kerjamu. Nanti bayarannya kukirim ke rekeningmu.”

Assasin itu heran juga, ratu kan tahu kalau ini bola? Tapi nggak papa lah, setidaknya ia nggak jadi membunuh seseorang, ia takut dosa.

Tiba-tiba Snow White masuk kamar ratu.

“Mama, Snow White mau main dulu ya…”

“Baiklah, Snow. Hati-hati ya…”

“Dah mama…”

“Dah Snow…”

Assasin yang melihat itu heran, kayaknya ada sesuatu yang… Sudahlah.







Kok habis?

Lho, katanya sudahlah, ya sudah, sudah habis.



Yaaa… Nggak bisa gitu lah.

Kemudian Snow White yang kesepian di hutan kebingungan.

Kok Snow White bisa di hutan? Sebelumnya dia kan di istana?



Kemudian Snow White yang kesepian di istana kebingungan.

DI istana kok kesepian? Ramai ah.



Kemudian Snow White yang tidak kesepian di istana kebingungan.

Nggak kesepian kok kebingungan?



Kemudian Snow White yang tidak kesepian di istana tidak kebingungan.

Kalau nggak kebingungan ngapain?



Kemudian Snow White kebingungan bagaimana bisa dia yang sebelumnya berada di istana yang tidak sepi jadi tidak membuatnya kebingungan tiba-tiba berada di hutan yang sepi yang membuatnya lebih bingung lagi.



Hari sudah semakin sore, Snow White yang tersesat di hutan kebingungan, dia terus berlari.

“Bagaimana ini, hari semakin sore, garis finisnya masih tidak kelihatan…”

Setelah lama dia melihat kotej yang ukurannya kecil, kotej itu sangat kecil sehingga semua perabotannya ditaruh di luar. Disana ada meja yang diatasnya ada 7 piring kecil dengan warna berbeda-beda, ada merah, merah kemerahan, merah kemerah-merahan, merah berbintik merah, merah bergaris merah, putih berlapis merah, dan hitam yang dicat merah. Di atas piring itu hanya ada tepung, tepung, dan tepung.

“Apaan sih ini? Semua piring kok isinya tepung? Nggak ada sendok lagi, adanya sumpit.”

Bagaimanapun juga, karena ia kelaparan semua tepung itu dimakannya (dengan sumpit). Kemudian ia tertidur karena makan puding rasa obat tidur.

Tiba-tiba ada 7 kurcaci yang kelihatannya habis pulang bekerja. Mereka kaget ketika membuka pintu kotejnya.

Kurcaci pertama bertanya, “Siapa yang duduk di kursiku?”, ia bertanya sambil duduk di kursinya.

Kurcaci kedua, “Siapa yang makan di atas piringku?”, ia bertanya sambil kebingungan mencari piringnya.

Kurcaci ketiga, “Siapa yang memakan rotiku?”, ia bertanya sambil makan roti.

Kurcaci keempat, “Siapa yang memakan sayurku?”, ketika ia melihat kurcaci ketiga makan roti ia meralatnya, “Siapa yang memakan rotiku?”

Kurcaci kelima, “Siapa yang menggunakan garpuku?” … “Kapan aku punya garpu?”

Kurcaci keenam, “Siapa yang memotong dengan pisauku?”, ia bertanya sambil menggesek-gesekkan pisaunya ke tangannya, “Aduh!”

Kurcaci ketujuh, “Siapa yang minum menggunakan mugku?” … “Jangan dijawab! Aku tidak bertanya padamu!”

Kemudian ketujuh kurcaci itu tersadar, di dalam kotejnya kan nggak ada apa-apa…

Kayaknya mereka kurang tidur, ketika mereka menuju tempat tidur, mereka kaget.

“Siapa yang habis tidur di tempat tidurku?” Kurcaci pertama bertanya.

“Bukan, bukan aku!” Kurcaci kedua menyangkal.

“Siapa yang bertanya padamu?” Kurcaci ketiga bertanya.

“Bagaimana kamu bisa tahu kurcaci pertama tidak bertanya pada kurcaci kedua?” Kurcaci keempat bertanya.

“Kenapa sampai sekarang aku nggak punya tempat tidur?” Kurcaci kelima bertanya.

“Tempat tidur? Apa itu tempat tidur?” Kurcaci keenam bertanya.

“Hei, ada yang tidur di tempat tidurku!” Kurcaci ketujuh tidak bertanya.

Keenam kurcaci lain melihat tempat tidur kurcaci ketujuh, disana ia melihat ada seorang gadis yang tertidur pulas.

“Lihatlah, cantiknya gadis itu!” Kurcaci pertama berkata.

“Iya, cantik.” Kurcaci kedua mengiyakan.

“He! Ojok mbebek ae kon! (Hai! Jangan mengangsa saja kau!)” Kurcaci ketiga menghardiknas.

“Apa? Aku cantik?” Kurcaci keempat bertanya pertanyaan retoris.

“Kamu bukan gadis yoo…” Kurcaci kelima mengklarifikasi.

“Diam, diam, nanti gadis itu bangun, kasihan dia.” Kurcaci keenam menasehati teman-temannya.

“Aku harus ngomong apa ya?” Kurcaci ketujuh bingung.

Ketujuh kurcaci tersebut kemudian tertidur pulas di kasur masing-masing.

“Hei, aku harus tidur dimana?” Kurcaci ketujuh akhirnya tahu apa yang harus dikatakan.

Esoknya, Snow White terbangun dan kaget melihat kurcaci.

“Hai, aku kaget lho…”

Ketujuh kurcaci tersebut ikutan terbangun.

“Ah”, “rupanya”, “kamu”, “sudah”, “terbangun”, “dari”, “tidurmu.” (kata-kata tersebut diucapkan secara berurutan oleh kurcaci)

“Kalian pemilik kotej ya? Maafkan aku, aku telah memakan semua tepung kalian… Tapi kalian kok makannya tepung?”

1. “Ah itu… Nggak papa… Nggak tahu juga, setelah kami memberikan makanan ternak, menyiram sayuran, atau mengambil hasil panen, warga memberi kami tepung…”

2. “Iya, habis murah kayaknya…”

3. “Baca guide dari mana sih?

4. “Iya, padahal nggak enak…”

5. “Kadang-kadang mereka juga datang siang-siang…”

6. “Minta relaxation tea leaves lagi.”

7. “Iya, budum.”

… Budum?

7. “Ah iya, kok aku bisa ngomong budum ya?”

“Sebenarnya nggak tahu kenapa aku bisa ada di hutan ini, aku nggak tahu jalan pulang. Boleh aku tinggal disini?”

“Asalkan kamu bisa mengurus rumah”, “masak”, “membersihkan tempat tidur”, “cuci baju”, “menjahit”, “menyulam”, “dan membersihkan rumah, kami bisa menerimamu.”

“Ah, aku bisa, tenang saja.”

“Baiklah kalau begitu.” Kurcaci manapun yang ngomong nggak penting.

Esoknya, ketika kurcaci itu pulang dari membantu pertanian warga…

Bukan warga sih, tepatnya seseorang yang memakai topi biru dan tas ransel kuning…

….

Hei, pekerjaan kurcaci itu bertambang tahu!

Sudahlah, ketika mereka pulang mereka melihat rumah mereka (masih) berantakan.

“Snow White! Mengapa semuanya masih berantakan?”

“Hah? Memang dari tadi gitu kok…”

“Bukannya kamu harus membereskan rumah?”

“Hah? Kenapa harus aku?”

“Kan perjanjiannya gitu, kamu harus bersihin rumah untuk tinggal disini…”

“Hah? Bukannya kalian bilang asalkan aku bisa mengurus rumah dan lain-lain? Aku bisa kok, tapi kenapa juga aku harus mengerjakannya untuk kalian?”

“Eee… Bila kau bilang seperti itu benar juga…”

Kemudian kurcaci-kurcaci itu menyesal tidak bisa meralat apa yang telah dituliskan pada cerita ini karena mereka nggak memiliki hak akses administrator.

Dari hutan kita beralih ke istana raja. Ratu senang karena kali ini cermin yang dimilikinya berbahasa Indonesia.

“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

“Terima kasih cermin, kalau yang paling ganteng?”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

“Kok… Kalau yang paling jelek?”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

“… Paling idiot?”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

“Apa maksudnya semua ini?! Ini semua pasti gara-gara Snow White masih hidup dan bersembunyi di hutan! Aku akan membunuhnya sekarang juga!”

Kemarahan ratu sangat memuncak, ia pergi ke rumah penyihir dan mencari cara untuk membunuh Snow White.

“Tentu saja anda, wahai ratu.”



Ratu mendapatkan cara untuk membunuh Snow White dari penyihir yang ia temui di perempatan dekat pasar. Ia menyamar sebagai pedagang keliling dan menjual kalung ke Snow White.

“Wahai gadis yang cantik, maukah kau membeli kalung ini?”

“Kalung yang cantik sekali ya mama, eh, pedagang keliling. Aku beli deh.”

“Baiklah, akan kukenakan kalung ini ke lehermu.”

Ratu memakaikan kalung itu ke Snow White. Karena ingin membunuhnya, Ratu mencekik leher Snow White dengan itu. Snow White pingsan dan Ratu kabur kembali ke istana.

Snow White terbangun, “Dasar penjual aneh, masa kalung diikatkan ke tangan sih? Ngikatnya keras lagi, untung nggak di leher, bisa bahaya tuh.”

Snow White kemudian kembali ke rumah kurcaci dengan darah mengucur deras dari nadinya.

Ratu kemudian bertanya lagi pada cermin.

“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

“Apa?! Snow White masih hidup!? Kurang ajar! Sekarang pasti akan kubunuh dia!”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

Kemudian ratu menyamar menjadi seorang nenek dan menjual sisir beracun ke Snow White.

“Wahai gadis yang berambut bagus, mau sisir?”

“Boleh juga mama, eh, pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir.”

Ratu kemudian menyisir rambut Snow White dengan sisir itu.

Sesaat kemudian Snow White pingsan. Ratu kembali ke istana dengan perasaan senang.

Snow White terbangun, “Dasar nenek, kok yang disisir rambut yang lain sih (yang mana?). Aku sampai pingsan karena geli.”

Snow White kemudian kembali ke rumah kurcaci.

Tunggu, pada adegan tadi rambut bagian mana yang disisir?

Di istana Ratu bertanya lagi pada cermin, tapi sebelumnya ia haus.

“Pelayan, ambilin minum dong!”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

“Apa?! Masih belum mati!? Argh! Sekarang pasti!”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

Pelayan datang tapi ratu keburu pergi.

“Lho, kemana sang ratu?”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

Kemudian ratu menyamar menjadi seorang nenek, kali ini jualan apel beracun.

“Mau?”

“SMS sesama operator masih gratis? SMS ke operator lain 100 rupiah? Eh, bukan ya…”

“Duh, jangan iklan dong. Apel nih, mau nggak?”

“Mau dong mama, eh, pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir, eh, nenek penjual apel.”

Snow White kemudian memakan apel itu. Tidak lama kemudian dia pingsan.

“Hahaha, yang ini pasti mujarab. Kembali dulu ah.”

Kali ini berbeda, Snow White tidak bangun-bangun.

Para kurcaci yang baru pulang kaget, mereka kira Snow White mati dan meletakkannya di peti kaca.

Lho, nggak dipastikan dulu? Siapa tahu masih hidup?

“Nggak mau ah, dia cuma ngerepotin mas… Kalau masih hidup beneran gimana? Repot kan? Mas sih enak, cuma jadi narator, ngomong doang.”

… Duh, aku sih pinginnya jadi cermin yang cuma bisa ngomong “Tentu saja anda, wahai ratu.” itu…

Sudah lama Snow White tersimpan di lemari es… Eh bukan ya? Peti kaca ding.

Dia tidak terlihat seperti seseorang yang telah meninggal. Dia tetap seputih salju, semerah darah, dan rambutnya sehitam bingkai jendela itu.



Jangan-jangan bingkai di tempat lain…

Suatu hari pangeran kerajaan tetangga tiba di hutan tempat kurcaci-kurcaci itu, dia kebingungan juga kok bisa tiba-tiba ada disana.

Ia melihat peti kaca Snow White dan tertarik untuk membawanya. Ia membaca tulisan emas di peti itu.

“Dijual cepat, 10 ribu bisa nego.”

Pangeran itu membeli peti Snow White, dengan nego dulu tentunya. Sebenarnya para kurcaci merasa berat dengan kepergian Snow White itu.

“Ya jelas berat, kita disuruh mengangkat peti ini sampai kerajaan. Dasar pangeran pelit.”

Tiba-tiba ditengah jalan peti itu terjatuh karena dibuang oleh para kurcaci.

… Itu sih bukan terjatuh namanya.

“Berat tahu! Kamu kan nggak bayar biaya pengantaran. Udah ah, kami mau pesta teh, musim semi nih!”

“Tunggu dulu! Terus bagaimana aku bisa membawanya?”

Peti yang jatuh itu terbuka dan Snow White terjatuh. Dari mulutnya keluar potongan apel beracun itu.

“Aduh sayang nih!”

Snow White memakan kembali apel itu. Kali ini baru racunnya bekerja, tadi sih Snow White bukan pingsan, tapi tidur.

“Lho kok pingsan lagi?”

Pangeran tersebut menggendong Snow White sampai ke kerajaannya. Sampai di kerajaan, Snow White terbangun.

“Terima kasih tumpangannya.”

“Lho? Jadi kamu tadi tidak pingsan ya?”

“Kenapa aku harus pingsan? Kamu pingin aku pingsan ya?”

Kemudian Snow White pingsan. Ratu kerajaan itu tidak sengaja melihatnya.

“Anakku! Apa yang kau lakukan pada gadis itu? Kamu telah menghamilinya ya?!”

“Apa?! Kalau begitu maafkan aku ibu! Aku akan bertanggung jawab!”

Kemudian Snow White dan pangeran itu akan dinikahkan.

Di lain tempat, ratu yang lain sedang berbicara pada cermin.

“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”

“Tentu saja anda, wahai ratu.”

“Apa!? Snow White menikah dengan pangeran kerajaan lain?! Kurang ajar, masih hidup saja dia!”

Ratu pergi ke kerajaan tetangga dengan amarah yang memuncak.

“Tentu saja anda, wahai ratu.”



Sesampainya di kerajaan tetangga, ratu (mama Snow White, tapi bukan manajernya kayak yang di suatu acara TV) melihat pernikahan Snow White dengan pangeran kerajaan itu. Ia mendekati Snow White dan akan mengucapkan mantera kutukan.

“Snow White! Ternyata kau ada di sini!”

“Pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir, eh, nenek penjual apel, eh, Mama?!”

“Snow White… Mama selalu mendoakanmu, nak. Semoga kamu berbahagia dengan pangeran ini.”

“Mama… Terima kasih banyak.”

“Ratu, maafkan aku yang telah lancang menikahi Snow White. Aku telah menghamilinya…”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku menunggu cucu pertamaku.”

“Mama?! Jadi mama tidak marah?! Mama memang mamaku yang paling baik!”

“Terima kasih bibi!”

Mereka semua bahagia, termasuk semua warga yang menghadiri pernikahan mereka.

Kalau bisa dibuat bahagia, mengapa memilih ending yang harus-ada-yang-mati?

Dan tidak jauh dari tempat pernikahan itu… Akhirnya… Aku melihat bingkai jendela yang berwarna hitam itu.


sumberair: auliaabdan.wordpress.com/2011/11/01/putri-salju-versi-lucu/

100 Pencipta Lagu Indonesia Terbaik

Kamis, 13 Februari 2014 | komentar (1)


Jakarta - Musik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-sehari, dan kemungkinan besar itu juga berlaku bagi Anda jika kemudian membaca majalah ini.

Tetapi di saat mendengar lagu dan ikut terbuai oleh vokal indah, permainan instrumen memukau dan lirik menyentuh yang telah diracik sedemikian rupa sehingga merasuk kalbu, mungkin kita lupa atau tidak sadar bahwa karya-karya musik yang kita nikmati dan bahkan anggap lumrah seringkali berawal dari jerih payah seseorang dalam menangkap inspirasi dan menerjemahkannya ke dalam rangkaian nada dan kata yang harmonis.

Dengan kata lain, semua lagu yang kita dengar di radio, televisi maupun konser berawal dari satu sumber: sang pencipta lagu.

Daftar ini merupakan sumbangan kecil dari Rolling Stone dalam rangka memberi apresiasi kepada para penggubah mahakarya-mahakarya terbaik dalam sejarah musik populer di Indonesia. Merekalah yang menghasilkan lagu-lagu yang menjadi penanda zaman dan inspirasi bagi calon-calon pencipta karya yang hendak mengikuti jejaknya.

Nama-nama dan urutan di daftar ini merupakan hasil diskusi panjang antara redaksi dengan sejumlah pengamat musik terkemuka. Apakah dapat diperdebatkan? Pasti. Tapi rasanya dapat disepakati bahwa semua nama ini turut memperindah hidup kita.

Inilah daftar 100 Pencipta Lagu Indonesia Terbaik:

1. Ismail Marzuki
2. Gesang
3. Tonny Koeswoyo
4. Guruh Soekarno Putra
5. Titiek Puspa
6. Iwan Fals
7. Ebiet G Ade
8. Fariz RM
9. Ahmad Dhani
10. Eross Candra
11. Rhoma Irama
12. Yovie Widianto
13. Ian Antono
14. Katon Bagaskara
15. Yockie Suryoprayogo
16. Erros Djarot
17. Franky Sahilatua
18. Gombloh
19. Sam Bimbo
20. Saiful Bachrie
21. Leo Kristi
22. Dodo Zakaria
23. Tito Soemarsono
24. James F. Sundah
25. Benyamin S
26. Melly Goeslaw
27. Pongki Barata
28. Nazril Irham
29. Glenn Fredly
30. Harry Roesli
31. Bimbim
32. Oetje F. Tekol
33. Dian Pramana Putra
34. Donny Fattah
35. Indra Lesmana
36. Bagoes AA
37. Iwan Abdurrachman
38. Keenan Nasution
39. Bing Slamet
40. A. Riyanto
41. Candra Darusman
42. Harry Sabar
43. Deddy Stanzah
44. Tohpati
45. Oddie Agam
46. Cholil Mahmud
47. Titiek Hamzah
48. Younky Soewarno
49. Benny Soebardja
50. Sawung Jabo
51. Bebi Romeo
52. Arthur Kaunang
53. Piyu
54. Elfa Secioria
55. Benny Panjaitan
56. Rinto Harahap
57. Pance Pondaag
58. Andre Hehanusa
59. Doel Sumbang
60. Murry
61. Minggus Tahitoe
62. Adjie Soetama
63. AT Mahmud
64. Charles Hutagalung
65. Chossy Pratama
66. Bartje Van Houten
67. Deddy Dores
68. Mus Mudjiono
69. Pak Kasur
70. Pay
71. Dewa Budjana
72. Ibu Sud
73. Denny Chasmala
74. Oslan Husein
75. Dewiq
76. Opick
77. Anang Hermansyah
78. Chris Manusama
79. Christ Kayhatu
80. Ully Sigar Rusadi
81. Anton Issoedibyo
82. Mochtar Embut
83. Munif Bahasuan
84. Ade Paloh
85. Irfan Aulia
86. Aryono Huboyo Djati
87. Adriyadie
88. Dorie Kalmas
89. Johannes Purba
90. Arie Wibowo
91. Obbie Messakh
92. Dadang S. Manaf
93. Cecep AS
94. Ikang Fawzi
95. Adjie Bandy
96. Ucok Harahap
97. Junaedi Salat
98. Wedhasmara
99. Wandi Kuswandi
100. Oppie Andaresta



Untuk penjelasan selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 106, Februari 2014.


source: rollingstone.co.id

22 Maret Album 'Live At Abbey' Gigi Akan Dirilis

Jumat, 07 Februari 2014 | komentar


Jakarta - Setelah sukses melakukan live streaming selama enam jam guna meluncurkan single terbaru “Tak Lagi Percaya” kemarin (6/2), Gigi akhirnya mengumumkan bahwa album terbaru mereka yang direkam secara live di Abbey Road Studio, London, akan dirilis pada 22 Maret mendatang. Hari tersebut sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahun Gigi yang ke-20.

Tak hanya album, vokalis Armand Maulana pun mengisyaratkan rilisnya album ke-13 Gigi ini akan dilengkapi pula dengan perilisan DVD. Masih belum pasti apakah DVD berisi live recording ketika berada di Abbey Road atau lengkap dengan perjalanan sepuluh hari Gigi ke London.

“Album #LiveAtAbbey Insya Allah akan rilis pas ultah @GIGI_Band tanggal 22 Maret kemungkinan bareng DVD nya juga doain ya,” tulis Armand melalui akun Twitter pribadinya, @armandmaulana.

Total akan ada sembilan lagu yang masuk ke dalam album yang berjudul Live At Abbey ini, termasuk di dalamnya single “Tak Lagi Percaya”. Lagu ini merupakan single pertama Gigi yang diciptakan oleh orang lain, yaitu oleh komposer papan atas Tanah Air, Bemby Noor.

Tak hanya Bemby, musisi lain yang terlibat dalam album terbaru Gigi di antaranya adalah Pay dan gitaris Sheila On 7, Eross Candra.

“Kami coba meminta kepada komposer-komposer hebat di Indonesia. Kami (sudah) 20 tahun berjalan, dan mencari apa sih yang belum pernah dilakukan. Salah satunya [adalah] Gigi membawakan lagu ciptaan orang lain,” terang Armand melalui konferensi pers saat peluncuran single baru Gigi kemarin.

Untuk perilisan album pada 22 Maret nanti, sejauh ini Gigi berencana akan mengadakannya di Istora Senayan Jakarta. Namun akibat terkendala izin, manajemen Gigi yang dipegang penuh oleh POS Entertainment masih mencari tempat atau kota lain sebagai solusinya.

“Rencana kami 22 Maret mau meluncurkan album, kebetulan tempatnya sudah lunas dibayar, di Istora Senayan. Tapi ternyata ada pengumuman dari Mabes Polri, mulai 14 Maret nggak boleh ada keramaian, kecuali kegiatan keagamaan,” jelas Dhani Pete, manajer Gigi, dalam konferensi pers.

“Ya, mungkin bisa dipindahkan ke kota yang bisa lebih longgar peraturan kotanya. Atau bisa kerja sama dengan stasiun televisi atau kota lain ya,” sambung Armand memberi masukan solusi.

Proses rekaman album Live At Abbey sendiri dikerjakan Gigi dalam waktu hanya dua hari, yakni pada tanggal 25 dan 26 November 2013 silam. Pengerjaan tersebut termasuk dalam kunjungan sepuluh hari Gigi ke kota London dan Liverpool di Inggris.

sumber: rollingstone.co.id